MENCERITAKAN KEMBALI ISI HIKAYAT KE DALAM BENTUK CERPEN
Langkah-langkah
- Analisislah gagasan-gagasan pokok dalam teks hikayat yang dipilih
- Susunlah gagasan-gagasan pokok tersebut menjadi sebuah sinopsis
- Analisislah nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat
- Tentukan tema dari sinopsis yang telah dibuat
- Buatlah poin-poin alur dari tema tersebut menjadi kerangka cerpen
- Kembangkan alur tesebut menjadi cerpen dengan tokoh dan setting yang berbeda dengan teks asal tetapi tetap memerhatikan alur dan nilai
01. HIKAYAT SI MISKIN
Karena sumpah Batara Indera, seorang raja keinderaan
beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya.
Itulah sebabnya kemudian ia dikenal sebagai si Miskin.
Si Miskin
laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari
rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di bawah pemerintahan Maharaja
Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara
beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan
berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan menangislah si Miskin berdua itu
dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu malam tidur di hutan, siangnya
berjalan mencari rezeki. Demikian seterusnya.
Ketika
isterinya mengandung tiga bulan, ia menginginkan makan mangga yang ada di taman
raja. Si Miskin menyatakan keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu,
tetapi istri itu makin menjadi-jadi menangisnya. Maka berkatalah si Miskin,
“Diamlah. Tuan jangan menangis. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu.
Jikalau dapat, Kakanda berikan kepada tuan.”
Si Miskin
pergi ke pasar, pulangnya membawa mempelam dan makanan-makanan yang lain.
Setelah ditolak oleh isterinya, dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan,
pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Setelah diperolehnya
setangkai mangga, pulanglah ia segera. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa
dan terus dimakannya mangga itu.
Setelah
genap bulannya kandunga itu, lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama
Marakarmah (=anak di dalam kesukaran) dan diasuhnya dengan penuh kasih saying.
Ketika
menggali tanah untuk keperluan membuat teratak sebagai tempat tinggal,
didapatnya sebuah tajau yang penuh berisi emas yang tidak akan habis untuk
berbelanja sampai kepada anak cucunya. Dengan takdir Allah terdirilah di situ
sebuah kerajaan yang komplet perlengkapannya. Si Miskin lalu berganti nama
Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. Negerinya
diberi nama Puspa Sari. Tidak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kedua,
perempuan, bernama Nila Kesuma.
Maharaja
Indera Angkasa terlalu adil dan pemurah sehingga memasyurkan kerajaan Puspa
Sari dan menjadikan iri hati bagi Maharaja Indera Dewa di negeri Antah
Berantah.
Ketika
Maharaja Indera Angkasa akan mengetahui pertunangan putra-putrinya, dicarinya
ahli-ahli nujum dari Negeri Antah Berantah.
Atas bujukan
jahat dari raja Antah Berantah, oleh para ahli nujum itu dikatakan bahwa
Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja
bagi orangtuanya.
Ramalan
palsu para ahli nujum itu menyedihkan hati Maharaja Indera Angkasa. Maka,
dengan hati yang berat dan amat terharu disuruhnya pergi selama-lamanya
putra-putrinya itu.
Tidak lama
kemudian sepeninggal putra-putrinya itu, Negeri Puspa Sari musnah terbakar.
Sesampai di
tengah hutan, Marakarmah dan Nila Kesuma berlindung di bawah pohon beringin.
Ditangkapnya seekor burung untuk dimakan. Waktu mencari api ke kampung, karena
disangka mencuri, Marakarmah dipukuli orang banyak, kemudian dilemparkan ke
laut. Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari, putera mahkota dari
Palinggam Cahaya, yang pada akhirnya menjadi isteri putera mahkota itu dan
bernama Mayang Mengurai.
Akan nasib
Marakarmah di lautan, teruslah dia hanyut dan akhirnya terdampar di pangkalan
raksasa yang menawan Cahaya Chairani (anak raja Cina) yang setelah gemuk akan
dimakan. Waktu Cahaya Chairani berjalan –jalan di tepi pantai, dijumpainya
Marakarmah dalam keadaan terikat tubuhnya. Dilepaskan tali-tali dan diajaknya
pulang. Marakarmah dan Cahaya Chairani berusaha lari dari tempat raksasa dengan
menumpang sebuah kapal. Timbul birahi nahkoda kapal itu kepada Cahaya Chairani,
maka didorongnya Marakarmah ke laut, yang seterusnya ditelan oleh ikan nun yang
membuntuti kapal itu menuju ke Palinggam Cahaya. Kemudian, ikan nun terdampar
di dekat rumah Nenek Kebayan yang kemudian terus membelah perut ikan nun itu
dengan daun padi karena mendapat petunjuk dari burung Rajawali, sampai
Marakarmah dapat keluar dengan tak bercela.
Kemudian,
Marakarmah menjadi anak angkat Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual bunga.
Marakarmah selalu menolak menggubah bunga. Alasannya, gubahan bunga Marakarmah
dikenal oleh Cahaya Chairani, yang menjadi sebab dapat bertemu kembali antara
suami-isteri itu.
Karena
cerita Nenek Kebayan mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang
puteri di bawah pohon beringin yang sedang menangkap burung, tahulah Marakarmah
bahwa puteri tersebut adiknya sendiri, maka ditemuinyalah. Nahkoda kapal yang
jahat itu dibunuhnya.
Selanjutnya,
Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. Dengan
kesaktiannya diciptakannya kembali Kerajaan Puspa Sari dengan segala
perlengkapannya seperti dahulu kala.
Negeri Antah
Berantah dikalahkan oleh Marakarmah, yang kemudian dirajai oleh Raja Bujangga
Indera (saudara Cahaya Chairani).
Akhirnya,
Marakarmah pergi ke negeri mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu
Indera dan menggantikan mertuanya itu menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi
raja di Palinggam Cahaya.
02.
HIKAYAT AMIR
Dahulu kala di Sumatra, hiduplah seorang saudagar yang
bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak
uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya.
Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya
bisa mengelus dada.
Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Semakin hari
sakitnya semakin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi
tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin.
Penyakit Syah Alam semakin parah. Sebelum meninggal,
Syah Alam berkata”Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau
harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu
sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah.Usahakan engkau terlihat oleh
bulan, jangan terlihat oleh matahari.”
”Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu.”
Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga
sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan.
Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat
bulan. Oleh sebab itu, kemana-mana ia selalu memakai payung.
Pada suatu hari, Amir bertmu dengan Nasrudin, seorang
menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai
payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian.
Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin
tertawa. Nasarudin berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan
ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah
sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari. ”
Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pijaman
uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu.
Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan
siang dan malam.Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau,
lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi
goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak it, Amir menjadi saudagar
kaya.
03. HIKAYAT BURUNG CENDERAWASIH
Sahibul hikayat telah diriwayatkan dalam Kitab Tajul
Muluk, mengisahkan seekor burung yang bergelar burung cenderawasih. Adapun asal
usulnya bermula dari kayangan. Menurut kebanyakan orang lama yang arif mengatakan
ianya berasal dari syurga dan selalu berdamping dengan para wali. Memiliki
kepala seperti kuning keemasan. Dengan empat sayap yang tiada taranya. Akan
kelihatan sangat jelas sekiranya bersayap penuh adanya. Sesuatu yang sangat
nyata perbezaannya adalah dua antena atau ekor ‘areil‘ yang panjang di ekor
belakang. Barangsiapa yang melihatnya pastilah terpegun dan takjub akan
keindahan dan kepelikan burung cenderawasih.
Amatlah jarang sekali orang memiliki burung
cenderawasih. Ini kerana burung ini bukanlah berasal dari bumi ini. Umum
mengetahui bahawa burung Cenderawasih ini hanya dimiliki oleh kaum kerabat
istana saja. Hatta mengikut sejarah, kebanyakan kerabat-kerabat istana Melayu
mempunyai burung cenderawasih. Mayoritas para peniaga yang ditemui mengatakan
ia membawa tuah yang hebat.
Syahdan
dinyatakan lagi dalam beberapa kitab Melayu lama, sekiranya burung cenderawasih
turun ke bumi nescaya akan berakhirlah hayatnya. Dalam kata lain burung
cenderawasih akan mati sekiranya menjejak kaki ke bumi. Namun yang pelik lagi
ajaibnya, burung cenderawasih ini tidak lenyap seperti bangkai binatang yang
lain. Ini kerana ia dikatakan hanya makan embun syurga sebagai makanannya.
Malahan ia mengeluarkan bau atau wangian yang sukar untuk diperkatakan. Burung
cenderawasih mati dalam pelbagai keadaan. Ada yang mati dalam keadaan terbang,
ada yang mati dalam keadaan istirahat dan ada yang mati dalam keadaan tidur.
Walau bagaimanapun, Melayu Antique telah menjalankan
kajian secara rapi untuk menerima hakikat sebenar mengenai BURUNG CENDERAWASIH
ini. Mengikut kajian ilmu pengetahuan yang dijalankan, burung ini lebih
terkenal di kalangan penduduk nusantara dengan panggilan Burung Cenderawasih.
Bagi kalangan masyarakat China pula, burung ini dipanggil sebagai Burung Phoenix
yang banyak dikaitkan dengan kalangan kerabat istana Maharaja China. Bagi
kalangan penduduk Eropah, burung ini lebih terkenal dengan panggilan ‘Bird of
Paradise‘. Secara faktanya, asal usul burung ini gagal ditemui atau
didapathingga sekarang. Tiada bukti yang menunjukkan ianya berasal dari alam
nyata ini. Namun satu lagi fakta yang perlu diterima, burung cenderawasih turun
ke bumi hanya di IRIAN JAYA (Papua sekarang), Indonesia saja. Tetapi yang pelik
namun satu kebenaran burung ini hanya turun seekor saja dalam waktu tujuh
tahun. Dan ia turun untuk mati. Sesiapa yang menjumpainya adalah satu tuah.
Oleh itu, kebanyakan burung cenderawasih yang anda saksikan mungkin berumur
lebih dari 10 tahun, 100 tahun atau sebagainya. Kebanyakkannya sudah beberapa
generasi yang mewarisi burung ini.
Telah dinyatakan dalam kitab Tajul Muluk bahawa burung
cenderawasih mempunyai pelbagai kelebihan. Seluruh badannya daripada dalam isi
perut sehinggalah bulunya mempunyai khasiat yang misteri. Kebanyakannya
digunakan untuk perubatan. Namun ramai yang memburunya kerana ‘tuahnya’. Burung
cenderawasih digunakan sebagai ‘pelaris’. Baik untuk pelaris diri atau
perniagaan. Sekiranya seseorang memiliki bulu burung cenderawasih sahaja pun
sudah cukup untuk dijadikan sebagai pelaris. Mengikut ramai orang yang ditemui
memakainya sebagai pelaris menyatakan, bulu burung cenderawasih ini merupakan
pelaris yang paling besar. Hanya orang yang memilikinya yang tahu akan
kelebihannya ini. Namun yang pasti burung cenderawasih bukannya calang-calang burung.
Penuh dengan keunikan, misteri, ajaib, tuah.
Tersebutlah kisah tiga orang
sahabat, Kendi, Buyung dan Awang yang sedang mengembara. Mereka membawa bekalan
makanan seperti beras, daging, susu dan buah-buahan. Apabila penat berjalan
mereka berhenti dan memasak makanan. Jika bertemu kampung, mereka akan singgah
membeli makanan untuk dibuat bekal dalam perjalanan.
Pada suatu hari, mereka tiba
di kawasan hutan tebal. Di kawasan itu mereka tidak bertemu dusun atau kampung.
Mereka berhenti dan berehat di bawah sebatang pokok ara yang rendang. Bekalan
makanan pula telah habis. Ketiga-tiga sahabat ini berasa sangat lapar,
“Hai, kalau ada nasi
sekawah, aku akan habiskan seorang,” tiba-tiba Kendi mengeluh. Dia
mengurut-ngurut perutnya yang lapar. Badannya disandarkan ke perdu pokok ara.
“Kalau lapar begini, ayam
panggang sepuluh ekor pun sanggup aku habiskan,” kata Buyung pula.
“Janganlah kamu berdua tamak
sangat dan bercakap besar pula. Aku pun lapar juga. Bagi aku, kalau ada nasi
sepinggan sudah cukup,” Awang bersuara.
Kendi dan Buyung tertawa
mendengar kata-kata Awang.
“Dengan nasi sepinggan, mana
boleh kenyang? Perut kita tersangatlah lapar!” ejek Kendi. Buyung mengangguk
tanda bersetuju dengan pendapat Kendi.
Perbualan mereka didengar
oleh pokok ara. Pokok itu bersimpati apabila mendengar keluhan ketiga-tiga
pengembara tersebut lalu menggugurkan tiga helai daun.
Bubb! Kendi, Buyung dan
Awang terdengar bunyi seperti benda terjatuh. Mereka segera mencari benda
tersebut dicelah-celah semak. Masing-masing menuju ke arah yang berlainan.
“Eh,ada nasi sekawah!” Kendi
menjerit kehairanan. Dia menghadap sekawah nasi yang masih berwap. Tanpa
berfikir panjang lalu dia menyuap nasi itu dengan lahapnya.
“Ayam panggang sepuluh ekor!
Wah, sedapnya!” tiba-tiba Buyung pula melaung dari arah timur. Serta-merta
meleleh air liurnya. Seleranya terbuka. Dengan pantas dia mengambil ayam yang
paling besar lalu makan dengan gelojoh.
Melihatkan Kendi dan Buyung
telah mendapat makanan, Awang semakin pantas meredah semak. Ketika Awang
menyelak daun kelembak, dia ternampak sepinggan nasi berlauk yang terhidang.
Awang tersenyum dan mengucapkan syukur kerana mendapat rezeki. Dia makan dengan
tenang.
Selepas makan, Awang rasa
segar. Dia berehat semula di bawah pokok ara sambil memerhatikan Kendi dan
Buyung yang sedang meratah makanannya.
“Urgh!” Kendi sendawa.
Perutnya amat kenyang. Nasi di dalam kawah masih banyak. Dia tidak mampu
menghabiskan nasi itu. “Kenapa kamu tidak habiskan kami?” tiba-tiba nasi di
dalam kawah itu bertanya kepada Kendi.
“Aku sudah kenyang,” jawab
Kendi.
“Bukankah kamu telah
berjanji akan menghabiskan kami sekawah?” Tanya nasi itu lagi.
“Tapi perut aku sudah
kenyang,” jawab Kendi.
Tiba-tiba nasi itu berkumpul
dan mengejar Kendi. Kawah itu menyerkup kepala Kendi dan nasi-nasi itu
menggigit tubuh Kendi. Kendi menjerit meminta tolong.
Buyung juga kekenyangan. Dia
cuma dapat menghabiskan seekor ayam sahaja. Sembilan ekor ayam lagi terbiar di
tempat pemanggang. Oleh kerana terlalu banyak makan, tekaknya berasa loya.
Melihat baki ayam-ayam panggang itu, dia berasa muak dan hendak muntah. Buyung
segera mencampakkan ayam-ayam itu ke dalam semak.
“Kenapa kamu tidak habiskan
kami?” tiba-tiba tanya ayam-ayam panggang itu.
“Aku sudah kenyang,” kata
Buyung. “Makan sekor pun perut aku sudah muak,” katanya lagi.
Tiba-tiba muncul sembilan
ekor ayam jantan dari celah-celah semak di kawasan itu. Mereka meluru ke arah
Buyung.
Ayam-ayam itu mematuk dan
menggeletek tubuh Buyung. Buyung melompat-lompat sambil meminta tolong.
Awang bagaikan bermimpi
melihat gelagat rakan-rakannya. Kendi terpekik dan terlolong. Buyung pula
melompat-lompat dan berguling-guling di atas tanah. Awang tidak dapat berbuat
apa-apa. Dia seperti terpukau melihat kejadian itu.
Akhirnya Kendi dan Buyung
mati. Tinggallah Awang seorang diri. Dia meneruskan semula perjalanannya.
Sebelum berangkat, Awang
mengambil pinggan nasi yang telah bersih. Sebutir nasi pun tidak berbaki di
dalam pinggan itu.
“Pinggan ini akan
mengingatkan aku supaya jangan sombong dan tamak. Makan biarlah berpada-pada
dan tidak membazir,” kata Awang lalu beredar meninggalkan tempat itu.
05. HIKAYAT ABU NAWAS: PESAN BAGI
HAKIM
Tersebutlah perkataan Abu Nawas
dengan bapanya diam di negeri Baghdad. Adapun Abu Nawas itu sangat cerdik dan
terlebih bijak daripada orang banyak. Bapanya seorang Kadi. Sekali peristiwa,
bapanya itu sakit dan hampir mati. Ia meminta Abu Nawas mencium telinganya.
Telinga sebelah kanannya sangat harum baunya, sedangkan telinga kiri sangat
busuk . Bapanya menerangkan bahwa semasa membicarakan perkara dua orang, dia
pernah mendengar aduan seorang dan tiada mendengar adua yang lain. Itulah
sebabnya sebelah telinga menjadi busuk. Ditambahnya juga kalau anaknya tiada
mau menjadi kadi, dia harus mencari helah melepaskan diri. Hatta bapa Abu Nawas
pun berpulanglah dan Sultan Harun Ar-rasyid mencari Abu Nawas untuk
menggantikan bapanya. Maka Abu Nawas pun membuat gila dan tidak tentu
kelakuannya. Pada suatu hati, Abu Nawas berkata kepada seorang yang dekatnya,
”Hai, gembala kuda, pergilah engkau memberi makan rumput kuda itu.” Maka si
polan itu pergi menghadap sultan dan meminta dijadikan kadi.
Permintaan dikabulkan dan si polan
itu tetap menjadi kadi dalam negeri. Akan Abu Nawas itu, pekerjaannya tiap hari
ialah mengajar kitab pada orang negeri itu. Pada suatu malam, seorang anak
Mesir yang berdagang dalam negeri Baghdad bermimpi menikah dengan anak
perempuan kadi yang baru itu. Tatkala kadi itu mendengar mimpi anak Mesir itu,
ia meminta anak Mesir itu membayar maharnya. Ketika anak Mesir itu menolak,
segala hartanya dirampas dan ia mengadukan halnya kepada Abu Nawas. Abu Nawas
lalu menyuruh murid-muridnya memecahkan rumah kadi itu. Tatkala dihadapkan ke
depan Sultan, Abu Nawas berkata bahwa dia bermimpi kadi itu menyuruhnya berbuat
begitu. Dan memakai mimpi sebagai hukum itu sebenarnya adalah hokum kadi itu
sendiri. Dengan demikian terbukalah perbuatan kadi yang zalim itu. Kadi itu
lalu dihukum oleh Sultan. Kemudian anak Mesir itu pun diamlah di dalam negeri
itu. Telah sampai musim, ia pun kembali ke negerinya.
Seorang kadi mempunyai seorang anak
bernama Abu Nawas menjelang kematiannya ia memanggil anak-anaknya dan disuruh
mencium telinganya. Jika telinga kanan harum baunya, itu pertanda akan baik.
Akan tetapi jika yang harum telinga kiri, berarti bahwa sepeninggalnya akan
terjadi hal-hal yang tidak baik. Ternyata yang harum yang kiri.
Sesudah ayahnya meninggal, Abu Nawas
pura-pura menjadi gila, sehingga ia tidak diangkat menggantikan ayahnya sebagai
kadi. Yang diangkat menggantikannya ialah Lukman. Seorang pedagang Mesir
bermimpi sebagai berikut: anak perempuan kadi baru kawin gelap, akan tetapi
tanpa emas kawin sama sekali kecuali berupa lelucon-lelucon, sehingga diusir
bersama-sama suaminya oleh ayahnya, lalu mengembara ke Mesir, dan dengan
demikian kehormatan kadi baru itu pulih kembali.
06. HIKAYAT
PATANI
Inilah suatu kisah yang diceritakan
oleh orang tua-tua, asal raja yang berbuat negeri Patani Darussalam itu. Adapun
raja di Kota Maligai itu namanya Paya Tu Kerub Mahajana. Maka Paya Tu Kerub
Mahajana pun beranak seorang laki-laki, maka dinamai anakanda baginda itu Paya
Tu Antara. Hatta berapa lamanya maka Paya Tu Kerub Mahajana pun matilah.
Syahdan maka Paya Tu Antara pun kerajaanlah menggantikan ayahanda baginda itu.
Ia menamai dirinya Paya Tu Naqpa. Selama Paya Tu Naqpa kerajaan itu sentiasa ia
pergi berburu.
Pada suatu hari Paya Tu Naqpa pun duduk diatas takhta kerajaannya dihadap
oleh segala menteri pegawai hulubalang dan rakyat sekalian. Arkian maka titah
baginda: "Aku dengar khabarnya perburuan sebelah tepi laut itu terlalu
banyak konon." Maka sembah segala menteri: "Daulat Tuanku, sungguhlah
seperti titah Duli Yang Mahamulia itu, patik dengar pun demikian juga."
Maka titah Paya Tu Naqpa: "Jikalau demikian kerahkanlah segala rakyat
kita. Esok hari kita hendak pergi berburu ke tepi laut itu." Maka sembah
segala menteri hulubalangnya: "Daulat Tuanku, mana titah Duli Yang
Mahamulia patik junjung." Arkian setelah datanglah pada keesokan harinya,
maka baginda pun berangkatlah dengan segala menteri hulubalangnya diiringkan
oleh rakyat sekalian. Setelah sampai pada tempat berburu itu, maka sekalian
rakyat pun berhentilah dan kemah pun didirikan oranglah. Maka baginda pun
turunlah dari atas gajahnya semayam didalam kemah dihadap oleh segala menteri
hulubalang rakyat sekalian. Maka baginda pun menitahkan orang pergi melihat
bekas rusa itu. Hatta setelah orang itu datang menghadap baginda maka
sembahnya: "Daulat Tuanku, pada hutan sebelah tepi laut ini terlalu banyak
bekasnya." Maka titah baginda: "Baiklah esok pagi-pagi kita
berburu"
Maka setelah keesokan harinya
maka jaring dan jerat pun ditahan oranglah. Maka segala rakyat pun masuklah ke
dalam hutan itu mengalan-alan segala perburuan itu dari pagi-pagi hingga datang
mengelincir matahari, seekor perburuan tiada diperoleh. Maka baginda pun amat
hairanlah serta menitahkan menyuruh melepaskan anjing perburuan baginda sendiri
itu. Maka anjing itu pun dilepaskan oranglah. Hatta ada sekira-kira dua jam
lamanya maka berbunyilah suara anjing itu menyalak. Maka baginda pun segera
mendapatkan suara anjing itu. Setelah baginda datang kepada suatu serokan tasik
itu, maka baginda pun bertemulah dengan segala orang yang menurut anjing itu.
Maka titah baginda: "Apa yang disalak oleh anjing itu?" Maka sembah
mereka sekalian itu: "Daulat Tuanku, patik mohonkan ampun dan karunia. Ada
seekor pelanduk putih, besarnya seperti kambing, warna tubuhnya gilang
gemilang. Itulah yang dihambat oleh anjing itu. Maka pelanduk itu pun lenyaplah
pada pantai ini."
Setelah baginda mendengar sembah
orang itu, maka baginda pun berangkat berjalan kepada tempat itu. Maka baginda
pun bertemu dengan sebuah rumah orang tua laki-bini duduk merawa dan menjerat.
Maka titah baginda suruh bertanya kepada orang tua itu, dari mana datangnya
maka ia duduk kemari ini dan orang mana asalnya. Maka hamba raja itu pun
menjunjungkan titah baginda kepada orang tua itu. Maka sembah orang tua itu:
"Daulat Tuanku, adapun patik ini hamba juga pada kebawah Duli Yang
Mahamulia, karena asal patik ini duduk di Kota Maligai. Maka pada masa Paduka
Nenda berangkat pergi berbuat negeri ke Ayutia, maka patik pun dikerah orang
pergi mengiringkan Duli Paduka Nenda berangkat itu. Setelah Paduka Nenda sampai
kepada tempat ini, maka patik pun kedatangan penyakit, maka patik pun
ditinggalkan oranglah pada tempat ini." Maka titah baginda: "Apa nama
engkau?". Maka sembah orang tua itu: "Nama patik Encik Tani."
Setelah sudah baginda mendengar sembah orang tua itu, maka baginda pun
kembalilah pada kemahnya.Dan pada malam itu baginda pun berbicara dengan segala
menteri hulubalangnya hendak berbuat negeri pada tempat pelanduk putih
itu.
Setelah keesokan harinya maka segala menteri hulubalang pun menyuruh orang
mudik ke Kota Maligai dan ke Lancang mengerahkan segala rakyat hilir berbuat
negeri itu. Setelah sudah segala menteri hulubalang dititahkah oleh baginda
masingmasing dengan ketumbukannya, maka baginda pun berangkat kembali ke Kota
Maligai. Hatta antara dua bulan lamanya, maka negeri itu pun sudahlah. Maka
baginda pun pindah hilir duduk pada negeri yang diperbuat itu, dan negeri itu
pun dinamakannya Patani Darussalam (negeri yang sejahtera). Arkian pangkalan
yang di tempat pelanduk putih lenyap itu (dan pangkalannya itu) pada Pintu
Gajah ke hulu Jambatan Kedi, (itulah. Dan) pangkalan itulah tempat Encik Tani
naik turun merawa dan menjerat itu. Syahdan kebanyakan kata orang nama negeri
itu mengikut nama orang yang merawa itulah. Bahwa sesungguhnya nama negeri itu
mengikut sembah orang mengatakan pelanduk lenyap itu. Demikianlah hikayatnya.
07. HIKAYAT SRI RAMA
Pada suatu hari, Sri Rama dan Laksamana pergi mencari Sita
Dewi. Mereka berjalan menelusuri hutan rimba belantara namun tak juga mendapat
kabar keberadaan Sita Dewi.
Saat Sri Rama dan Laksamana berjalan di dalam hutan,
mereka bertemu dengan seekor burung jantan dan empat ekor burung betina. Lalu
Sri Rama bertanya pada burung jantan tentang keberadaan Sita Dewi yang diculik
orang. Burung jantan mengatakan bahwa Sri Rama tak bisa menjaga istrinya dengan
baik, tak seperti dia yang memiliki empat istri namun bisa menjaganya.
Tersinggunglah Sri Rama mendengar perkataan burung itu. Kemudian, Sri Rama
memohon pada Dewata Mulia Raya agar memgutuk burung itu menjadi buta hingga tak
dapat melihat istri-istrinya lagi. Seketika burung itu buta atas takdir Dewata
Mulia Raya.
Malam tlah berganti siang. Di tengah perjalanan, mereka
bertemu dengan seekor bangau yang sedang minum di tepi danau. Bertanyalah Sri
Rama pada bangau itu. Bangau mengatakan bahwa ia melihat bayang-bayang seorang
wanita dibawa oleh Maharaja Rawana. Sri Rama merasa senang karena mendapat
petunjuk dari cerita bangau itu. Sebagai balas budi, Sri Rama memohon pada
Dewata Mulia Raya untuk membuat leher bangau menjadi lebih panjang sesuai
dengan keinginan bangau. Namun, Sri Rama khawatir jika leher bangau terlalu
panjang maka dapat dijerat orang.
Setelah Sri Rama memohon doa, ia kembali melanjutkan
perjalanan. Tak lama kemudian datanglah seorang anak yang hendak mengail.
Tetapi, anak itu melihat bangau yang sedang minum kemudian menjerat lehernya
untuk dijual ke pasar. Sri Rama dan Laksamana bertemu dengan anak itu dan
membebaskan bangau dengan memberi anak itu sebuah cincin.
Ketika dalam perjalanan, Sri Rama merasa haus dan
menyuruh Laksamana untuk mencarikannya air. Sri Rama menyuruh Laksamana untuk
mengikuti jatunya anak panah agar dapat menemukan sumber air. Setelah berhasil
mendapatkan air itu, Laksamana membawanya pada Sri Rama. Saat Sri Rama meminum
air itu, ternyata air itu busuk. Sri Rama meminta Laksamana untuk mengantarnya
ke tempat sumber air dimana Laksamana memperolehnya. Sesampai di tempat itu, dilihatnya
air itu berlinang-linang. Sri Rama mengatakan bahwa dulu pernah ada binatang
besar yang mati di hulu sungai itu. Kemudian, Sri Rama dan Laksamana memutuskan
untuk mengikuti jalan ke hulu sungai itu.
Mereka bertemu dengan seekor burung besar bernama Jentayu
yang tertambat sayapnya dan yang sebelah rebah. Sri Rama bertanya padanya
mengapa sampai Jentayu seperti itu. Jentayu menceritakan semuanya pada Sri Rama
tentang pertarungannya melawan Maharaja Rawana. Setelah Jentayu selesai
bercerita, ia lalu memberikan cincin yang dilontarkan Sita Dewi saat Jentayu
gugur ke bumi saat berperang dengan Maharaja Rawana. Kemudian, cincin itu
diambil oleh Sri Rama. Bahagialah Sri Rama melihat cincin itu memang benar
cincin istrinya, Sita Dewi.
Jentayu berpesan pada Sri Rama jika akan pergi
menyeberang ke negeri Langka Puri, Sri Rama tidak boleh singgah ke tepi laut
karena di sana terdapat gunung bernama Gendara Wanam. Di dalam bukit tersebut
ada saudara Jentayu yang bernama Dasampani sedang bertapa. Jentayu tak ingin
saudaranya itu mengetahui bahwa dirinya akan segera mati. Setelah Jentayu
selesai berpesan, ia pun mati.
Sri Rama menyuruh Laksamana mencari tempat yang
tidak terdapat manusia dengan memberinya sebuah tongkat. Tetapi, Laksamana
tidak berhasil menemukan tempat itu. Lalu ia kembali pada Sri Rama. Laksamana
mengatakan pada Sri Rama bahwa ia tidak dapat menemukan tempat sesuai perintah
Sri Rama. Kemudian, Sri Rama menyuruh Laksamana untuk menghimpun semua kayu api
dan meletakkannya di tanagn Sri Rama. Lalu diletakkannya bangkai Jentayu di
atas kayu api itu dan di bakar oleh Laksamana. Beberapa lama kemudian, api itu
padam. Laksamana heran melihat kesaktian Sri Rama yang tangannya tidak terluka
bakar sedikitpun. Kemudian, mereka melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat
itu.
08.
HIKAYAT JAYA LENGKARA
Tersebut cerita seorang raja yang terlalu besar kerajaannya, Saeful
Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaanya. Adapun raja ini telah berkawin
dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak beranak, ia
berkawin dengan Putri Sukanda baying-bayang. Hatta berapa lamanya, Puteri
Sukanda bayang-bayangpun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan
Makdim. Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa
meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lamanya, ia pun beranaklah
seorang anak laki-laki yang terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Lengkara.
Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah
dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang dan rakyat
sekalian juga mengucap syukur kepada Alloh.
Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.
Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.
Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.
Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri, negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.
Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.
Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.
09. HIKAYAT HANG TUAH
Pada suatu ketika ada seorang pemuda yang bernama Hang
Tuah, anak Hang Mahmud. Mereka bertempat tinggal di Sungai Duyung. Pada saat
itu, semua orang di Sungai Duyung mendengar kabar teng Raja Bintan yang baik
dan sopan kepada semua rakyatnya.Ketika Hang Mahmud mendengar kabar itu, Hang
Mahmud berkata kepada istrinya yang bernama Dang Merdu,”Ayo kita pergi ke
Bintan, negri yang besar itu, apalagi kita ini orang yang yang miskin. Lebih
baik kita pergi ke Bintan agar lebih mudah mencari pekerjaan.”Lalu pada malam
harinya, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas
kepala Hang Tuah.
Hang Mahmudpun terbangun dan mengangkat anaknya serta
menciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau seperti wangi-wangian. Siang
harinya, Hang Mahmud pun menceritakan mimpinya kepada istri dan anaknya.
Setelah mendengar kata suaminya, Dang Merdu pun langsung memandikan dan
melulurkan anaknya.Setelah itu, ia memberikan anaknya itu kain,baju, dan ikat
kepala serba putih. Lalu Dang Merdu member makan Hang Tuah nasi kunyit dan
telur ayam, ibunya juga memanggil para pemuka agama untuk mendoakan selamatan
untuk Hang Tuah. Setelah selesai dipeluknyalah anaknya itu.Lalu kata Hang
Mahmud kepada istrinya,”Adapun anak kita ini kita jaga baik-baik, jangan diberi
main jauh-jauh.”Keesokan harinya, seperti biasa Hang Tuah membelah kayu untuk
persediaan.
Lalu ada pemberontak yang datang ke tengah pasar,
banyak orang yang mati dan luka-luka. Orang-orang pemilik took meninggalkan
tokonya dan melarikan diri ke kampong. Gemparlah negri Bintan itu dan terjadi
kekacauan dimana-mana. Ada seorang yang sedang melarikan diri berkata kepada
Hang Tuah,” Hai, Hang Tuah, hendak matikah kau tidak mau masuk ke
kampung.?”Maka kata Hang Tuah sambil membelah kayu,”Negri ini memiliki prajurit
dan pegawai yang akan membunuh, ia pun akan mati olehnya.”Waktu ia sedang
berbicara ibunya melihat bahwa pemberontak itu menuju Hang Tuah samil
menghunuskan kerisnya.
Maka ibunya berteriak dari atas toko, katanya,”Hai,
anakku, cepat lari ke atas toko!”Hang Tuah mendengarkan kata ibunya, iapun
langsung bangkit berdiri dan memegang kapaknya menunggu amarah pemberontak itu.
Pemberontak itu datang ke hadapan Hang Tuah lalu menikamnya bertubi-tubi. Maka
Hang Tuah pun Melompat dan mengelak dari tikaman orang itu. Hang Tuah lalu
mengayunkan kapaknya ke kepala orang itu, lalu terbelalah kepala orang itu dan
mati. Maka kata seorang anak yang menyaksikannya,”Dia akan menjadi perwira
besar di tanah Melayu ini.”Terdengarlah berita itu oleh keempat kawannya, Hang
Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekui.
Mereka pun langsung berlari-lari mendapatkan Hang
Tuah. Hang Jebat dan Hang Kesturi bertanya kepadanya,”Apakah benar engkau
membunuh pemberontak dengan kapak?” Hang Tuah pun tersenyum dan
menjawab,”Pemberontak itu tidak pantas dibunuh dengan keris, melainkan dengan
kapak untuk kayu.”Kemudian karena kejadian itu, baginda raja sangat mensyukuri
adanya sang Hang Tuah. Jika ia tidak datang ke istana, pasti ia akan dipanggil
oleh Sang Raja. Maka Tumenggung pun berdiskusi dengan pegawai-pegawai lain yang
juga iri hati kepada Hang Tuah. Setelah diskusi itu, datanglah mereka ke
hadapan Sang Raja.
Maka saat sang Baginda sedang duduk di tahtanya
bersama para bawahannya, Tumenggung dan segala pegawai-pegawainya datang
berlutut, lalu menyembah Sang Raja, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan
berkat, ada banyak berita tentang penghianatan yang sampai kepada saya.
Berita-berita itu sudah lama saya dengar dari para pegawai-pegawai
saya.”Setelah Sang Baginda mendengar hal itu, maka Raja pun terkejut lalu
bertanya, “Hai kalian semua, apa saja yang telah kalian ketahui?”Maka seluruh
menteri-menteri itu menjawab, “Hormat tuanku, pegawai saya yang hina tidak
berani datang, tetapi dia yang berkuasa itulah yang melakukan hal ini.”Maka
Baginda bertitah, “Hai Tumenggung, katakan saja, kita akan membalasanya.”Maka
Tumenggung menjawab, “Hormat tuanku, saya mohon ampun dan berkat, untuk datang
saja hamba takut, karena yang melakukan hal itu, Ra
Setelah Baginda mendengar kata-kata Tumenggung yang
sedemikian itu, maka Baginda bertitah, “Siapakah orang itu, Sang Hang Tuah
kah?”Maka Tumenggung menjawab, “Siapa lagi yang berani melakukannya selain Hang
Tuah itu. Saat pegawai-pegawai hamba memberitahukan hal ini pada hamba, hamba
sendiri juga tidak percaya, lalu hamba melihat Sang Tuah sedang berbicara
dengan seorang perempuan di istana tuan ini. Perempuan tersebut bernama Dang
Setia.
Hamba takut ia melakukan sesuatu pada perempuan itu,
maka hamba dengan dikawal datang untuk mengawasi mereka.”Setelah Baginda
mendengar hal itu, murkalah ia, sampai mukanya berwarna merah padam. Lalu ia
bertitah kepada para pegawai yang berhati jahat itu, “Pergilah, singkirkanlah
si durhaka itu!”Maka Hang Tuah pun tidak pernah terdengar lagi di dalam negri
itu, tetapi si Tuah tidak mati, karena si Tuah itu perwira besar, apalagi di
menjadi wali Allah. Kabarnya sekarang ini Hang Tuah berada di puncak dulu
Sungai Perak, di sana ia duduk menjadi raja segala Batak dan orang hutan.
Sekarang pun raja ingin bertemu dengan seseorang, lalu ditanyainya orang itu
dan ia berkata, “Tidakkah tuan ingin mempunyai istri?”Lalu jawabnya, “Saya
tidak ingin mempunyai istri lagi.”
10. HIKAYAT JAYA LENGKARA
Tersebut cerita seorang raja yang terlalu besar
kerajaannya, Saeful Muluk namanya, Ajam Saukat nama kerajaanya. Adapun raja ini
telah berkawin dengan Putri Sukanda Rum. Tetapi oleh karena permaisurinya tidak
beranak, ia berkawin dengan Putri Sukanda baying-bayang. Hatta berapa lamanya,
Puteri Sukanda bayang-bayangpun beranak anak kembar yang diberi nama Makdam dan
Makdim. Permaisuri takut kehilangan kasih sayang raja sama sekali, lalu berdoa
meminta anak. Doanya dikabulkan. Hatta berapa lamanya, ia pun beranaklah
seorang anak laki-laki yang terlalu baik rupanya. Anak itu ialah Jaya Lengkara.
Adapun semasa Jaya Langkara jadi itu, negeri pun terlalu makmur, makanan murah
dan banyak pedagang yang datang pergi. Segala ahli nujum, hulubalang dan rakyat
sekalian juga mengucap syukur kepada Alloh.
Kemudian raja menyuruh anaknya yang lain ,Makdam dan
Makdim pergi bertanyakan nasib Jaya Langkara pada seorang kadi. Kadi itu
meramalkan bahwa Jaya Langkara akan menjadi raja besar yang terlalu banyak
sakti dan segala raja-raja besar tiada yang dapat melawannya dan segala
margastua juga tunduk kepadanya dengan khidmat. Mendengar ramalan yang
demikian, Makdam dan Makdim menjadi sakit hatinya. Mereka berdusta kepada
ayahanda mereka dengan mengatakan, jikalau Jaya Langkara ada dalam negeri,
negeri akan binasa, beras padi juga akan menjadi mahal. Raja termakan fitnah
ini dan membuang Jaya Langkara dengan bundayanya dari negeri.
Naga guna menyelamatkan Jaya Langkara. Bersama-sama
mereka akan pergi ke negeri Peringgi. Jaya Langkara menewaskan seorang
ajar-ajar dan memaksanya masuk islam. Dengan bantuan raja jin yang sudah masuk
islam, ia membebaskan Makdam dan Makdim dari penjara. Ratna Kasina dan Ratna
Dewi dikawinkan dengan Makdam.Bunga Kumkuma putih juga sudah diperolehnya.
Mangkubumi mesir coba mengambil bunga itu dari jaya
langkara dan ditewaskan. Jaya Langkara mengampuni dia, bila mendengar
sebab-sebab ia ingin mendapat kan bunga itu. Jaya Langkara pergi ke Mesir dan
memohon supaya puteri Ratna Dewi dikawinkan dengan Makdim. Permaohonan nya
diterima dengan baik oleh raja Mesir. Bersama –sama dengan Ratna Kasina, Jaya
Langkara berangkat ke negeri Ajam Saukat dan menyembuhkan penyakit raja yang
tak lain adalah ayahnya. Selang berapa lamanya, Jaya Langkara kembali ke hutan
untuk mencari bundanya.Ratna Kasina menyusul tidak lama kemudian, karena tidak
tahan di ganggu oleh Makdam dan Makdim yang sudah ke negeri Ajam Saukat. Karena
berahi mereka akan putri Ratna Kasina, Makdam dan Makdim coba membunuh Jaya
Langkara. Naga guna menyelamatkan dan membawanya bersama-sama dengan Puteri
Ratna Kasina ke negeri Madinah. Raja Madinah sangat bergembira. Jaya Langkara
dikawinkan dengan puteri Ratna Kasina. Raja Madinah sendiri juga berkawin
dengan bunda jaya langkara. Hatta berapa lamanya. Jaya Langkara pun menjadi
raja, negeri Madinah pun terlalu makmur dan besar kerajaannya. Segala raja
besar pun menghantar upeti ke madinah setiap tahun.

0 komentar:
Posting Komentar