Nusa Tenggara Barat
adalah sebuah provinsi di Indonesia yang berada dalam gugusan Sunda Kecil dan
termasuk dalam Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi yang biasa disingkat NTB ini
memiliki 10 Kabupaten/Kota. Dua pulau terbesar di provinsi ini adalah Lombok
yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di timur. Ibu kota provinsi
ini adalah Kota Mataram yang berada di Pulau Lombok.
Sebagian besar dari penduduk
Lombok berasal dari suku Sasak, sementara suku Bima dan Sumbawa merupakan
kelompok etnis terbesar di Pulau Sumbawa. Mayoritas penduduk Nusa Tenggara
Barat beragama Islam (96%).
Peristiwa bersejarah mengenai
kebudayaan NTB khususnya untuk ketiga suku ini, suku Sasak, suku Bima, dan suku
Sumbawa terjadi pada tanggal 26 Desember 2015. Pada hari itu berkumpul berbagai
tokoh-tokoh masyarakat dari ketiga kebudayaan suku tersebut. Peristiwa bersejarah
ini dilakukan oleh para tokoh-tokoh masyarakat tersebut untuk meluruskan
pandangan masyarakat mengenai kebudayaan yang ada di NTB.
Para tokoh budayawan dan tokoh
masyarakat ini merumuskan sebuah pernyataan sikap bahawa menjadi bangsa Sasak
merupakan sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT, dan
generasi mendatang.
Kebudayaan Sasak merupakan
kebudaayaan yang sangat luar biasa, tetapi banyak pihak-pihak yang tidak
mengetahuinya dan hanya memandangnya sebagai sesuatu yang negatif. Padahal jika
diperdalami, kita akan menemukan berbagai hal yang sangat sakral dan jauh dari
pemikiran kita yang sebelumnya mengenai kebudayaan tersebut.
Peristiwa ini merupakan sebuah
gerakan kebudayaan untuk menyatukan sikap serta ketegasan budaya suatu suku
untuk menangkal isu-isu miring mengenai suatu budaya. Diharapkan nanti bisa
diikuti oleh masyarakat kebudayaan lainnya yang ada di nusantara.
Pada tanggal 26 Desember 2015 yang
bertempat di Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, Lombok para tokoh masyarakat
Sasak menyatakan pernyataan sikap, yang disebut sebagai Piagam Gumi Sasak. Isi
naskah dari piagam Gumi Sasak tersebut adalah sebagai berikut.
Bismillahirrahmanirrahim
Menjadi bangsa
Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan
generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan mata rantai
sejarah kemanusiaan melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran
bangaa Sasak yang terhampar di gumi paer. Simbol-simbol itu merupakan
tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jati dirinya yang
sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana
yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak.
Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jati diri, sampai
pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang berlangsung
hingga saat ini. Beralih pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis
dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu
telah membuat bangsa ini menjadi bangsa imperior yang tak mampu tegak di antara
bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanah kefitrahannya sebagai sebuah
bangsa. Sadar akan hal tersebut kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan Piagam
Gumi Sasak sebagai berikut.
Pertama : Berjuang bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak
demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua : Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan
khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran,
kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga : Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak
melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang
maju dengan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas dan
tradisionalitas.
Keempat : Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan
kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima : Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang
egaliter, bersatu dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju
kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram,
14 Mulud tahun Jimawal / 1437H.
26
Desember 2015.
Ditandatangani bersama kami,
- Drs. Lalu Azhar
- Drs. H. Lalu Mujtahid
- Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
- TGH. Ahyar Abduh
- Drs. H. Husni Mu'adz MA., Ph. D.
- Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
- Dr. H. Jamaludin M. Ag.
- Dr. Lalu Abd. Khalik M.Hum.
- Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Sc.,
- Dr. H. Sudirman M.Pd.
- Dr. HL., Agus Fathurrahman
- Mundzirin S.H,
- L. Ari Irawan, SE., S.Pd., M.Pd.


